“Dan adapun orang yang takut kepada Tuhannya dan menahan diri
dari (keinginan) hawa nafsunya maka sungguh surgalah tempatnya.” (Annaziat
40-41)
Pagi ini semuanya baik-baik saja, hingga mentari kian
meninggi. Walau cahanya beigitu redup
tertutup awan yang kian menebal dan menghitam.
Hingga menyisahkan sedikit cela untuk cahaya mentari. Pagi ini sebuah berita membuatku tercengang
kaget. Bocah 9 tahun diperkosa hingga
berulang kali. Ini bukan hal yang baru aku dengar, tapi kali bukan di TV namun anak itu berdiri
di hadapanku, polos, rambut ikal sebahu, dengan wajah tanpa ekspresi. Seperti anak-anak desa lainnya dia tidak
tampak mencolok. Apa yang ada dipikiran
pelaku itu, wajah plos dan sama sekali tidak menggoda. Astagfirullah, apakah
orang itu fedofil? Saya rasa tidak, karena dia duda dengan 7 orang anak.
Apa yang kini dipikirkan anak
itu? Hanya mematung didampingi seorang wanita paruh bayah. “Apakah wanita itu ibunya?bagaimana
perasaannya saat ini, mengetahui anaknya yang masih tidak tau apa-apa sudah
kehilangan harta berharganya.” Batinku bertanya-tanya. Tidak, ternyata ibu itu bukan ibunya. Dia hanya seorang kerabat yang tinggal di
rumah anak itu. Lantas, ibunya kemana?
Dari teman-teman aku dengar kalau ibu anak itu sekarang ada di Malasyia sedang
mencari nafkah menjadi seorang TKW.
Mataku perih, ada segumpal
embun yang ingin menjadi air. Namun
hatiku lebih perih, ada kecemasan, kecemasan sebagai seorang wanita. Semua wanita adalah calon ibu, jika kelak
kita menjadi ibu, apakah kita sanggup menjaga anak-anak wanita kita yang
samapai saat dia mampu mengenal yang mana yang baik dan yang buruk, mampukah
kita kemudian mendidik dan menanamkan akhlak dalam dirinya hingga iya kelak
menjadi seorang ibu yang baik pula.
Zaman yang kian canggih dengan berbagai bentuk tekhnologi yang mampu
mengubah prilaku, dan akhlak seseorang, baik itu mereka yang punya iman apalagi
yang tidak. Kita selalu berdoa dalam
sujud terakhir kita Semoga kita,
keluarga kita diberi keturunan yang baik.
Kita hanya mampu berusaha dan berdoa, semoga kita mampu istiqomah hingga
akhir kelak, mati dalam keadaan khusnul khotimah, masuk surga dan meninggalkan
keturunan-keturun yang sholeh dan sholehah.
“Inikah yang membuat ibu pusing ketika anak gadisnya belum Menikah?”
entahlah.
Lahir dan besar di Desa ini,
hingga aku berusia 14 tahun kemudian berhijrah ke kota untuk menunut ilmu
hingga usiaku 22 tahun. Sudah 6 bulan
aku kembali menetap di desa ini, baru 6 bulan sudah 3 kasus asusila yang
terjadi. Belum lagi para gadis yang
kemudian marrige by accident. Anak kecil tadi yang berusia 9 thn
diperkosa, anak smp hamil 2 bulan, dan seorang anak yang terpaksa dinikahkan
karena kedapatan “berbuat” di sebuah
lapangan saat maghrib.
Sangat ironis, di Desa yang
masih jauh dari tekhnologi. Sinyal hp
saja baru terjangkau di semua tempat sekitar setahun, Warnet baru ada 2, VCD porno
tidak mungkin ada. Bagaimana jika desa
ini telah berkembang, apa yang akan terjadi dengan manusia-manusia yang ada
disini.
Ketika itu terjadi, apa yang
harus ku lakukan, sedangka pemimpinnya saja seperti itu.
“Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran maka ubahlah
dengan tanganmu, jika tidak mampu ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu
ubahlah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR.Muslim)
Manimpahoi, 29 April 2012